Review The Odyssey (2026)

Review The Odyssey (2026)

Review The Odyssey (2026)

If only the gods are willing

Γεια!!!

Kisah mitologi Yunani tampaknya lagi ramai diperbincangkan lagi ya di 2026 ini. Setelah akhir 2025 lalu ramai bahas mengenai series dari Percy Jackson yang diangkat ulang oleh Disney, Juli 2026 ini ada film baru garapan Christopher Nolan yang bawa tema mitologi Yunani. The Odyssey. Seperti yang tergambarkan dari judulnya, film ini menceritakan mengenai kisah kehidupan Odysseus sang pahlawan dari Yunani.

Film ini rilis pada 15 Juli 2026, dan aku baru nonton filmnya 2 minggu kemudian. Berdasarkan review teman-teman dan juga video pendek yang seliweran disosial media, katanya film ini bagus. Ten out of ten. But they do not describe it and I can't imagine why it's good. So I choose to watch it by myself, I want to immerse to this movie haha. 

Dan setelah nonton film ini selama hampir 3 jam, akhirnya aku sepakat dengan opini orang-orang. Bahkan aku juga jadi tau kenapa salah seorang temanku yang biasanya suka mengantuk saat nonton film, bisa merasa seru selama menonton film ini. Jujur, kayaknya memang tidak perlu diragukan lagi sih soal film garapan dari Christopher Nolan ini. 

Pace film ini padat, BANGET. Tiga jam kerasa banget lamanya buatku, cuma tidak membosankan. Mungkin karena kakiku kerasa pegel kali ya. Nah, adegan film ini dibuka dengan adanya jamuan di Ithaca, suara penyair yang diperankan Travis Scott bergema di bioskop. Kemudian kisah diteruskan dengan lanjut ke kisah kilas balik soal siapa itu Odysseus, kenapa dia pergi berperang ke Troya, hingga kisah epik petualangan Odysseus ini untuk kembali pulang ke Ithaca. 

Alur cerita dari film ini jujur ketebak banget. Come on, if you read any greek myths before, I believe you will familiar with this film's plot. I guess, the plot is not the point of this film. The point is how Sir Nolan can bring out the imagination into the real visualization, into the screen!

Sejak kecil, aku suka baca mitologi yunani. Somehow, di rumah aku punya kumpulan cerpen mitologi Yunani yang sudah kubaca ulang berkali-kali. Selama menonton film tadi, aku merasa bernostalgia. Bagaimana tidak, semua imajinasi dan ingatan mengenai paragraf cerita yang sudah lama kubaca sebelumnya, seolah keluar dari kepala dan betul-betul ada di layar besar didepanku. It feels like, everything I've imagined before, becoming real now! Dan aku puas sekali karena hasil pengambilan gambarnya sangat epik. Eksekusi alurnya sangat rapi. Sountrack filmnya cocok abis dengan adegan-adegannya. Tmi, tabuhan genderang difilmnya masih membuatku merinding loh sampai sekarang!

Menonton The Odyssey ini ibarat menonton The Chronicles of Narnia dan Percy Jackson, tapi versi lebih dewasa. Tone film ini, adegan-adegan difilmnya, cocok banget ditonton orang-orang berusia dua puluhan ke atas. I mean, if I watch this movie as a junior high school student, I bet I will be terrified hahaha. Apalagi pas muncul Polyphemus, si Cyclops penggembala domba itu, aku yakin aku yang masih SMP itu akan skip-skip adegan ini. Karena di film ini Sir Nolan membuat Polyphemus bentuknya sangat 'tidak proporsional', sudahlah matanya memang cuma 1 dibuat makin buruk rupa pula dia. Pokoknya beda dari gambaran 'monster' di film-film kayak Narnia atau Percy, yang biasanya dibuat sedikit humanis dan bisa diterima mata. Selain itu, adegan pas tim Odysseus sowan ke hunian penyihir Circe, duh! Aku yakin, adegan itu akan susah diterima remaja muda haha. Sangat tidak menyenangkan melihat Circe mengubah para awak Odysseus menjadi babi. I personally disgusted but satisfied hehe. 

Menjelang babak terakhir film The Odyssey ini, aku pribadi merasa Mr. Nolan berusaha menitikberatkan di sisi penyesalan Odysseus. Bukan hanya karena dia gagal membawa krunya pulang ke Ithaca dengan selamat, tapi juga sejak dia punya ide mengenai kuda Trojan. Ibarat kata nih, kemenangan sudah ada di tangan Odysseus, bukannya langsung pulang untuk merayakan, dia malah enggan pulang dan berakhir memilih jalur pulang yang lebih jauh hingga perlu 20 tahun untuk kembali ke kampung halaman. 

Keren banget sih Mr. Nolan bisa kepikiran sudut pandang kayak gitu. Apa emang POV ini ada juga di karya tulis dari Homer? Atau apa mungkin Christopher Nolan terinspirasi dari film Oppenheimer sebelumnya? Aku belum menonton Oppenheimer sih hehe. But I feel both, The Odyssey and Oppenheimer, having similar regrets vibe. Just personal opinion by the way. 

TMI tidak penting untuk menutup tulisanku kali ini. Selama aku menonton film ini, beberapa kali aku merasa dejavu. Karena aku berasa kayak lagi nonton 'bioskop trans tv' sama bapak di rumah saat aku kecil haha. Bedanya dulu aku disuruh segera tidur kalau sudah iklan yang pertama, kalau sekarang aku bisa nonton filmnya sampai abis ((dan gaada iklan di bioskopnya wkwk)). 

Overall, film ini memang bagus. Jadi silakan tonton deh pumpung masih ada filmnya di bioskop. Kataku sih lebih baik nonton di bioskop ya, efek suaranya ituloh mantap banget!

Ciao. Ketemu lagi di tulisanku selanjutnya nanti!

Written by nia

Another Nia's Story

Review Home Sweet Loan (2024)

Review Home Sweet Loan (2024)

Kamu pengin beli rumah ? ? ?Hi!!!!!!Pumpung masih hangat banget filmnya dan aku baruuuu saja kemarin habis nonton ini sama Mbak Hilga dan Mbak Efa. Iya! Home Sweet Loan judulnya. Film ini sudah tayang sejak 26 September 2024 lalu. Melansir dari tweet akun X si...

read more
Review Love Reset (2023)

Review Love Reset (2023)

We must recover our memories to say goodbyeOla!!! Setelah kemarin aku menonton film terbaru, kali ini aku abis nonton film yang rilis hampir 2 tahun lalu, tepatnya sekitar bulan Oktober tahun 2023. Karena film ini rilisnya udah dari lama, harusnya sih udah banyak yang...

read more
Review The Odyssey (2026)

Review The Odyssey (2026)

If only the gods are willingΓεια!!! Kisah mitologi Yunani tampaknya lagi ramai diperbincangkan lagi ya di 2026 ini. Setelah akhir 2025 lalu ramai bahas mengenai series dari Percy Jackson yang diangkat ulang oleh Disney, Juli 2026 ini ada film baru garapan Christopher...

read more

Comments

Nia's Spot
Kalau kalian sudah nonton filmnya, berapa ratenya menurut kalian?
Copyright © 2026 ramadhaniawy

Review Toy Story 5 (2026)

Review Toy Story 5 (2026)

Review Toy Story 5 (2026)

The age of toys is over?

Haiii!!!

Hari ini (25/06) aku baru saja menonton Toy Story 5 di bioskop hehe. Aku pilih jam tayang terakhir di Movimax Dinoyo, pukul 20.30 WIB. Saat membeli tiketnya, kulihat baris A, B, D, E, hampir setengahnya sudah terbeli. Akhirnya aku pilihlah kursi bernomor C10 itu, karena satu deret C tampak kosong. Supaya bisa lebih leluasa saja niatnya.

Lima belas menit sebelum film diputar, studio satu terbuka dan orang-orang mulai masuk kesana. Tak kusangka, meskipun filmnya tayang cukup malam ternyata masih ada banyak keluarga yang membeli tiketnya. Kalau kuhitung secara kasar, ada kali 3-4 keluarga dengan anaknya dalam studio satu tersebut. Dan sisa penonton di studio itu penuh dengan remaja seusiaku. Banyak yang dari mereka datang bersama, nobar kali ya? Tapi ada juga yang memang couple (when yh).

I feel warm before the movie even started. Karena suasana yang ada di bioskop tentunya. Selama 15 menit menunggu, kukira deret C akan kosong tapi ternyata penuh! Banyak orang lalu-lalang mencari kursi dengan nomor yang sama dengan tiket di tangan mereka. Lalu ditengah kesibukan individu mencari nomor kursi, ada juga yang bertegur sapa. Kelihatannya mereka teman lama yang baru bertemu lagi. Well, I assure you I am not eavesdropping, just accidentally hear because they are standing in front of me.

Selama menonton film dengan durasi 1 jam 42 menit itu, seisi studio tertawa bersama, memekik bersama di adegan-adegan yang wow(?). Nah, kalau Kamu mengira yang terdengar adalah suara tawa anak-anak, no no. Seisi studio dipenuhi suara tawa bariton dari pemuda yang duduk menatap layar bioskop itu! Bahkan suara tawaku dan mbak-mbak disebelahku pun teredam suara mereka. I feel warmer.

Begitu film selesai, credit scene muncul di layar, lampu menyala, dan lagu Taylor Swift yang menjadi OST film Toy Story 5 ini terdengar, and I just realized that the studio is filled with people in their twenties. Aku tahu kalau banyak remaja yang menonton, tapi aku baru sadar. Aku melihat sekelilingku, tampak mata mereka berbinar menatap layar yang menampilkan Buzz High Tech itu mendarat ke anak-anak di taman. And I get a goosebump, how fun!

It's feel like, the lyrics of the ending song resonate me, resonate us.
"Man, it's been a while. But I knew it, I knew you"

What is this story about?

Kalau aku tadi bercerita suasana di bioskop seperti apa, kali ini aku akan bahas cerita dari film Toy Story 5 ini.

Seperti yang ada di trailer, premisnya diambil dari pengaruh perkembangan teknologi terhadap para mainan. Bagaimana anak-anak sekarang, Bonnie contohnya, mulai lebih suka bermain dengan gadget daripada dengan mainannya. Tentunya Jessie si cowgirl berambut merah tidak tinggal diam dan berusaha melakukan sesuatu supaya Bonnie tidak kecanduan gadget. Dibantu dengan Buzz si kapten luar angkasa dan Woody cowboy berbaju kuning, petualangan para mainan itu pun dimulai.

What can we get from this movie?

This film hit us hard. Banyak anak-anak sekarang dewasa lebih cepat daripada seharusnya karena pengaruh gadget. Perilaku individualistis dan cyber-bullying juga sangat rentan dihadapi dan itu tidak baik. Bentar deh, kok jadi kayak skripsi ya? Formal amat hahaha.

Intinya sih, film ini mengingatkan kita untuk 'content'. To touch some grass. Untuk merasakan secara nyata semua yang ada di sekitar kita. Yang ternyata menyenangkan juga kok hidup diluar dunia maya!

So, I guess that all I can say. Rate film ini? Kurasa 8/10. Go watch it guys!

Cheerio!!!!

Another Nia's Story

Review Home Sweet Loan (2024)

Review Home Sweet Loan (2024)

Kamu pengin beli rumah ? ? ?Hi!!!!!!Pumpung masih hangat banget filmnya dan aku baruuuu saja kemarin habis nonton ini sama Mbak Hilga dan Mbak Efa. Iya! Home Sweet Loan judulnya. Film ini sudah tayang sejak 26 September 2024 lalu. Melansir dari tweet akun X si...

read more
Review Love Reset (2023)

Review Love Reset (2023)

We must recover our memories to say goodbyeOla!!! Setelah kemarin aku menonton film terbaru, kali ini aku abis nonton film yang rilis hampir 2 tahun lalu, tepatnya sekitar bulan Oktober tahun 2023. Karena film ini rilisnya udah dari lama, harusnya sih udah banyak yang...

read more
Review The Odyssey (2026)

Review The Odyssey (2026)

If only the gods are willingΓεια!!! Kisah mitologi Yunani tampaknya lagi ramai diperbincangkan lagi ya di 2026 ini. Setelah akhir 2025 lalu ramai bahas mengenai series dari Percy Jackson yang diangkat ulang oleh Disney, Juli 2026 ini ada film baru garapan Christopher...

read more

Comments

Nia's Spot
Kalau kalian sudah nonton filmnya, berapa ratenya menurut kalian?
Copyright © 2026 ramadhaniawy

Review Film People We Meet on Vacation (2026)

Review Film People We Meet on Vacation (2026)

Review Film People We Meet on Vacation (2026)

There is thin blur line between searching and escaping.

Haloo!!!

Aku datang membawa rekomendasi film baru untuk kalian semua hehe 😀

People We Meet on Vacation, diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Emily Henry. Tulisan tangan tersebut diangkat ke layar kaca oleh Netflix. Baru juga tiga hari tayang sejak dirilis 9 Januari 2026 lalu, film ini sudah menduduki peringkat 5 film teratas!

Yuk kenalan sama tokoh utamanya!

Ada 2 tokoh utama dalam film ini, Poppy si female lead dengan karakter yang spontan, berantakan (messy-chaos), tapi ternyata dia sangat sentimental. Dan kepribadiannya itulah yang membuatnya putus kuliah dan memilih untuk bekerja menjadi penulis di majalah R&R, di New York. Jujur, tokoh dengan penokohan karakter ini, jurnalis maksudku, sangaaaattttt amaattt klasik. Named it! Kamu pasti bisa menemukan banyak banget rom-com film yang tokoh utama wanitanya penulis perempuan hehe. How to Lose a Guy in 10 Days, misalnya. 

And honestly, I have a good feelings about these womens writer characters! Cause in my opinion, the story about these writers fellas always LIT.

Move, tokoh utama pria di film ini bernama Alex. Dia tipe-tipe cowok yang kutu buku, loyal, on-time, rajin deh pokoknya. Tiap pagi dia punya rutinitas untuk lari berkeliling komplek. Di pendidikan juga dia menjalani semua kehidupan kuliah mulai dari S1, S2 digas semua oleh pria ini. Orang yang bisa mengendalikan dirinya, itu yang aku lihat dari Alex.

Sangat kontra ya karakter mereka. Yang satu sangat messy, yang satu sangat stable.

So, how can they fall in love?

Yap! To the point saja, karena film ini romance-comedy pasti tujuan akhir filmnya pasti how will they ended up with each other, ya kannn.

Mereka pertama kali bertemu di liburan akhir semester kuliah tahun pertama mereka (kurasa). Poppy menumpang Alex untuk pulang ke kampung halaman mereka, yang kebetulan sama yakni di Lienfield. Yang ternyata, pertemuan pertama itu memberi kesan awal yang buruk untuk Alex terhadap Poppy. Mulai dari perempuan ini ternyata suka ngaret, berantakan, pokoknya semua jadi terasa chaos dengan kehadiran Poppy. Bahkan sampai membuat perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 4 jam itu, bisa molor banget jadi hampir 24 jam! 

Tapi, dibalik hal-hal spontanitas dan "buruk" itu ternyata ada hal yang menarik juga dan patut untuk disyukuri. Kata Alex, dia gak bakal bisa melihat matahari terbit yang cantik banget di antah berantah kalau dia tidak menghabiskan waktu seharian kemarin bersama Poppy. Dari situ deh, akhirnya bermula awal mereka berteman yang akhirnya berujung ke kesepakatan untuk berlibur setiap tahun pada musim panas. 

Satu minggu penuh mereka berlibur selama 7 tahun berturut-turut, sebelum akhirnya konflik antara dua tokoh itu datang. Konflik batin sih ya ini. Dinamika antara Poppy yang avoidant, menolak semua hubungan romansa yang terlalu clingy, tapi dia ingin attach dengan Alex. Lalu ada Alex yang bingung dengan perasaannya, between his girlfriend and his girl-best-friend.

Dan obatnya? Komunikasi sih, titik. Communication is the key, duh!

What's good about this movie?

Karena film ini bercerita soal vacation a.k.a liburan, jadi latar tempat film ini tuh cukup beragam. Ada di New York, di Barcelona, cantik-cantik pokoknya cara mereka mengambil gambar! Selain tempatnya yang cantik, aku suka sama aktor dan aktrisnya. Mereka wajah-wajah baru di Netflix sepertinya, jadi terasa fresh. Aku juga suka bagaimana film ini cukup smooth dan tidak membuat bingung ketika mengalihkan kita ke masa yang berbeda, karena alur maju-mundur yang digunakan di film People We Meet on Vacation ini. Make up artistnya the best sih! Pandai banget membuat garis tipis penuaan dan styling fashion kedua tokoh kita ini, sehingga terlihat jelas perbedaannya kapan ini masa lalu, kapan ini masa sekarang.

Is there anything feels meh about this movie?

Karena aku tidak baca buku dan sinopsis bukunya sama sekali, jadi ekspektasiku terhadap film ini (melihat dari judulnya saja) ternyata sangat berbeda. Di dalam pikiranku, film ini akan menceritakan soal bagaimana aku berlibur dan bertemu jodoh. Tapi ternyata, trope buku ini malah friends to lovers. Tetap liburan sih, tapi ternyata bertemu dengan 'teman' liburan. Karena ternyata Poppy dan Alex ini masuk ke kategori teman yang tidak bertemu secara daily, tapi masih akrab. Because of their annually summer vacation.

Dan juga, kalau kubaca-baca review orang-orang, banyak yang merasa ini baiknya dibikinin jadi series. Karena cerita tiap vacation mereka terasa kurang detail di film ini. Harapannya satu tempat travel, satu episode lah minimal. Tapi menurutku meskipun tidak detail ceritanya, masih bisa dinikmati dan diambil poinnya. Dan bagusnya lagi, kadi film ini rena kejadian di masa lalu dibuat menjadi flashback scene, jadi ya wajar kalau tidak dijadikan detail. Tinggal diambil scene mana yang paling teringat, dan itu makesense sih buat mengatasi ketidak-detailan tadi. Emang ada orang yang ingat semua detail masa lalu ketika sedang memorize sesuatu?

Anyway, karena komentar-komentar dan artikel-artikel review yang bereda di internet dan sosial media, aku jadi semakin tertarik dengan bukunya. Ingin tahu detail apa ya yang kira-kira aku lewatkan. Melihat filmnya saja sudah kesemsem, apalagi baca bukunya ya xixixi.

Buat kamu yang belum nonton filmnya, buruan nonton deh di Netflix! Hehe

Ciao! Ketemu lagi di tulisan selanjutnya yaah

Another Nia's Story

Review Home Sweet Loan (2024)

Review Home Sweet Loan (2024)

Kamu pengin beli rumah ? ? ?Hi!!!!!!Pumpung masih hangat banget filmnya dan aku baruuuu saja kemarin habis nonton ini sama Mbak Hilga dan Mbak Efa. Iya! Home Sweet Loan judulnya. Film ini sudah tayang sejak 26 September 2024 lalu. Melansir dari tweet akun X si...

read more
Review Love Reset (2023)

Review Love Reset (2023)

We must recover our memories to say goodbyeOla!!! Setelah kemarin aku menonton film terbaru, kali ini aku abis nonton film yang rilis hampir 2 tahun lalu, tepatnya sekitar bulan Oktober tahun 2023. Karena film ini rilisnya udah dari lama, harusnya sih udah banyak yang...

read more
Review The Odyssey (2026)

Review The Odyssey (2026)

If only the gods are willingΓεια!!! Kisah mitologi Yunani tampaknya lagi ramai diperbincangkan lagi ya di 2026 ini. Setelah akhir 2025 lalu ramai bahas mengenai series dari Percy Jackson yang diangkat ulang oleh Disney, Juli 2026 ini ada film baru garapan Christopher...

read more

Comments

Nia's Spot
Kalau kalian sudah nonton filmnya, berapa ratenya menurut kalian?
Copyright © 2026 ramadhaniawy

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Buku The Five People You Meet in Heaven

Meniti Bianglala

Haloo!!!

Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali lagi menulis di blog ini hehe. Kali ini aku mau membahas buku yang baru saja aku selesaikan. Judulnya "The Five People You Meet in Heaven", karya dari Mitch Albom. Mungkin kalau kalian suka membaca, Mitch Albom tuh pengarang dari buku "Tuesday with Morrie" yang terkenal ituloh!

Bukunya kali ini bukan bukuku sendiri. Aku meminjamnya dari perpustakaan umum di Malang. Buku cetakan 2005 ini, dipinggir-pinggirnya sudah terlihat menguning. Pun sampul bukunya sangat tidak menarik untuk ukuran gen z, seperti yang bisa kamu lihat di samping. Tapi meskipun sampulnya terlihat jadul, isi bukunya sangat 'daging'.

Apa sih isi ceritanya?

Seperti judulnya, kisah ini menceritakan kehidupan setelah kematian. Tokoh utamanya bernama Eddie, seorang staff maintenance di Ruby Pier — sebuah taman hiburan (theme park). Cerita dibuka dengan cerita mengenai satu jam terakhir Eddie di dunia. Tidak, Eddie tidak tahu bahwa dirinya akan mati hari itu. 

Seperti kalimat yang ditulis Mr. Albom, 'Kalau saja ia tahu saat kematiannya sudah dekat, ia mungkin akan pergi ke tempat lain. Tapi karena tidak tahu, ia lakukan apa yang kita semua lakukan. Ia tetap menjalankan rutinitas sehari-harinya, seakan-akan seluruh hari di dunia ini masih akan dijalaninya.'

Sungguh, setelah aku membaca paragraf itu, aku merasa seperti dihantam sesuatu. Membuatku akhirnya berhenti sejenak dan membaca ulang satu paragraf tersebut. Tapi memang ya, kita semua tidak tahu kapan kematian kita tiba, kita selalu merasa seolah-olah kita hidup selamanya, kita selalu menjalani kegiatan sehari-hari. Tidak ada satu pun manusia yang tahu, kapan kiranya Izrail datang.

Setelah Eddie tidak lagi bernapas di dunia, kisah pun dimulai. Orang pertama yang ditemuinya di alam baka adalah pria biru. Sosok yang bahkan hanya beberapa kali berpapasan dengan Eddie, namun ternyata menjadi pelajaran pertama bagi dirinya. Hingga kisah pun dilanjut sampai orang kelima. Yang mana mereka semua, dengan perannya masing-masing, membantu Eddie untuk berlapang dada menerima kematiannya.

Apa yang bisa didapat dari buku ini?

1. Mari hindari kebiasaan 'aku sentris'.

Dari kelima orang yang Eddie temui, kebanyakan diantaranya menceritakan bagaimana Eddie dari sudut pandang orang tersebut. Yang pada akhirnya, ternyata secara tidak sadar mempengaruhi jalan kehidupan Eddie pada masanya. Karena bisa saja, apa yang kamu anggap remeh malah nyatanya berdampak besar untuk orang lain. Jadi mari lebih peka dengan keadaan sekitar. Let's touch some grass!

Hidupmu memang adalah duniamu, tapi kamu perlu mengingat bahwa dunia tidak berputar mengelilingi kamu. Dunia isinya bukan cuma kamu.

2. Ayo berdamai dengan diri sendiri!

Salah satu dari lima orang yang Eddie temui berkata "Kau mendapat kedamaian setelah kau berdamai dengan dirimu sendiri."
Aku tidak akan memberi banyak kalimat disini. Karena sejujurnya aku cukup tertampar dengan kalimat ini hehe.

Aku sangat suka cara penulisan buku ini. Mr. Albom sangat pandai menyusun dan menggabung-gabungkan plot. Beliau sangat rapi menceritakan bagaimana kehidupan lampau Eddie, bagaimana situasi Eddie di alam baka saat ini, bahkan beliau juga bisa menggambarkan bagaimana kehidupan di dunia sepeninggal Eddie. Setelah membaca buku ini, aku merasa sedih tapi tidak menyesakkan. Ibaratnya aku sedang murung, lalu ada yang memelukku dengan hangat. Sangat nano-nano!

Kalau kamu suka buku-buku dengan tema seperti ini, aku punya beberapa rekomendasi nih! Caw lihat postinganku di instagram.

 

Ciao! Ketemu lagi ditulisanku selanjutnya yaa!!! >_<

More From Nia's Story

Review The Odyssey (2026)

Review The Odyssey (2026)

If only the gods are willingΓεια!!! Kisah mitologi Yunani tampaknya lagi ramai diperbincangkan lagi ya di 2026 ini. Setelah akhir 2025 lalu ramai bahas mengenai series dari Percy Jackson yang diangkat ulang oleh Disney, Juli 2026 ini ada film baru garapan Christopher...

read more
Review The Odyssey (2026)

Review The Odyssey (2026)

If only the gods are willingΓεια!!! Kisah mitologi Yunani tampaknya lagi ramai diperbincangkan lagi ya di 2026 ini. Setelah akhir 2025 lalu ramai bahas mengenai series dari Percy Jackson yang diangkat ulang oleh Disney, Juli 2026 ini ada film baru garapan Christopher...

read more
Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Meniti BianglalaHaloo!!! Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali lagi menulis di blog ini hehe. Kali ini aku mau membahas buku yang baru saja aku selesaikan. Judulnya "The Five People You Meet in Heaven", karya dari Mitch Albom. Mungkin kalau kalian suka membaca,...

read more
Nia's Spot
Copyright © 2026 ramadhaniawy

Review Love Reset (2023)

Review Love Reset (2023)

Review Love Reset (2023)

We must recover our memories to say goodbye

Ola!!!

Setelah kemarin aku menonton film terbaru, kali ini aku abis nonton film yang rilis hampir 2 tahun lalu, tepatnya sekitar bulan Oktober tahun 2023. Karena film ini rilisnya udah dari lama, harusnya sih udah banyak yang nonton yaa. Mungkin kamu termasuk salah satunya? xixixi

Judulnya dalam bahasa Inggris adalah Love Reset, tapi dikenal juga sebagai 30일 dalam bahasa korea (kalau ditranslate artinya 30 Days). Film bergenre komedi-romansa yang dibintangi Kang Haneul dan Jung Somin ini patut diacungi jempol. Chemistry mereka berdua ituloh, rasanya menembus layar haha. 

Ceritanya tentang apa sih?

Well, cerita dibuka dengan bagaimana kisah romansa antara Hong Nara (Jung Somin) dan Jungyeol (Kang Haneul) sangat dramatis seperti di film-film. Pengantin wanita kaya raya, a.k.a Nara, kabur dari pernikahan dan memilih mengejar cintanya mahasiswa hukum pengangguran, si Jungyeol. Kalau kalian berharap film ini akan menceritakan kehidupan romantis mereka berdua, hmm salah besar. 

Selang beberapa menit dari adegan tadi, kita langsung dibawa ke kondisi sekarang dimana dua tokoh utama kita tadi sedang duduk dan beradu mulut dihadapan pengadilan agama. Iyaaa, pengadilan agama! Mereka berdua mau mengurus perceraian 🙂

Nah, sampai sini nih konflik yang sebenarnya dari film ini pun dimulai. Sepulang dari pengadilan, mereka berdua yang berkendara di dalam satu mobil tertabrak oleh truk. Bangun-bangun pasangan suami-istri itu ternyata mengalami amnesia. Disini nih, kurang 30 hari perceraian disahkan eh malah yang bersangkutan hilang ingatan.

Untuk memulihkan kembali ingatan Nara dan Jungyeol, dokter menyarankan supaya mereka ditempatkan di lingkungan mereka biasanya. Yang mana tentunya yaa rumah mereka berdua. Lucunya, keluarga pihak pria dan wanita ini sangat mendukung mereka bercerai. Jadi selama 30 hari dua insan itu kembali ke rumah, mereka, para keluarga, berharap keduanya bisa sembuh ingatannya dan tetap melanjutkan perceraian. 

Struggle banget pokoknya. Tapi seru. Karena bayangin deh, semesta tuh kayak menyuruh mereka kembali lagi dari awal. Kembali lagi untuk berusaha mengingat why I love this man/woman, why I choose him/her, why I still standing next to him/her? Romantis ya kayaknya. 

But surprise!! Paradox is coming. Selain mengingat hal-hal romantis itu, tentunya mereka akan mengingat hal-hal yang buruk juga. Why I hate him/her, why we choose to divorce? Hahaha it's like happiness and sadness always come in a bundle

Film dengan durasi hampir 2 jam ini disajikan dengan padat. Dari apa yang aku ceritakan di atas, konflik tiap scene disampaikan dengan tidak bertele-tele. Komedi di film ini juga masuk di aku. 

After effect setelah menonton film ini, buatku pribadi adalah perasaan lega namun sedikit kosong. Lega karena mereka akhirnya berhenti tengkar di ending haha. Sedikit kosong, karena masih nggak habis pikir sama karakternyat. Since I'm single, honestly I can not relate with our main characters. But I guarantee you, I still have empathy for them. 

What can we get from this movie?

Berkat film ini, aku jadi tahu kalau orang berumah tangga tuh harus diutamakan komunikasi. Karena meskipun Kamu sudah menikah, pasanganmu ya tetap orang lain. Dia bukan menjadi dirimu, tapi tetap menjadi entitas lain yang hidupnya berdampingan sama kamu. Kalau nggak dikomunikasiin kamu maunya apa, dia maunya apa, yaaa cekcok jadinyaa. Yang ujung-ujungnya kalau cekcoknya parah yaa, cerai. Thanks God if they do not have children, but if they do, ughh I bet it will only make a new problem.

Tapi nih ya, selain pentingnya dikomunikasikan terkait apa yang masing-masing rasakan, cara penyampaiannya juga perlu diperhatikan. Harus dengan tutur bahasa yang baik, nggak teriak-teriak. Seringkali kita tuh lupa bahwa keluarga juga merupakan 'orang lain'. Orang lain yang juga punya perasaan dan perlu kita hormati. Hmm, nggak perlu bahas suami-istri deh, bahkan keluarga kayak adik, kakak, ibu, bapak, pun kita kalau ngobrol sama mereka seringkali 'kelepasan' saat ingin menyampaikan sesuatu 'kan.

Anyway, karena ini film jadi awalnya ditayangin di bioskop pas awal rilis dulu. Tapi jangan khawatir! Kalau Kamu belum pernah nonton filmnya dan pengin nonton, sekarang filmnya bisa diakses secara online kok. Teman-teman bisa mengakses filmnya di Viu. 

 

Oke deh, segitu dulu. Ketemu lagi di film berikutnya! Ciao!!!!

Another Nia's Story

Review Home Sweet Loan (2024)

Review Home Sweet Loan (2024)

Kamu pengin beli rumah ? ? ?Hi!!!!!!Pumpung masih hangat banget filmnya dan aku baruuuu saja kemarin habis nonton ini sama Mbak Hilga dan Mbak Efa. Iya! Home Sweet Loan judulnya. Film ini sudah tayang sejak 26 September 2024 lalu. Melansir dari tweet akun X si...

read more
Review Love Reset (2023)

Review Love Reset (2023)

We must recover our memories to say goodbyeOla!!! Setelah kemarin aku menonton film terbaru, kali ini aku abis nonton film yang rilis hampir 2 tahun lalu, tepatnya sekitar bulan Oktober tahun 2023. Karena film ini rilisnya udah dari lama, harusnya sih udah banyak yang...

read more
Review The Odyssey (2026)

Review The Odyssey (2026)

If only the gods are willingΓεια!!! Kisah mitologi Yunani tampaknya lagi ramai diperbincangkan lagi ya di 2026 ini. Setelah akhir 2025 lalu ramai bahas mengenai series dari Percy Jackson yang diangkat ulang oleh Disney, Juli 2026 ini ada film baru garapan Christopher...

read more

Comments

Nia's Spot
Kalau kalian sudah nonton filmnya, berapa ratenya menurut kalian?
Copyright © 2026 ramadhaniawy