Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Buku The Five People You Meet in Heaven

Meniti Bianglala

Haloo!!!

Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali lagi menulis di blog ini hehe. Kali ini aku mau membahas buku yang baru saja aku selesaikan. Judulnya “The Five People You Meet in Heaven”, karya dari Mitch Albom. Mungkin kalau kalian suka membaca, Mitch Albom tuh pengarang dari buku “Tuesday with Morrie” yang terkenal ituloh!

Bukunya kali ini bukan bukuku sendiri. Aku meminjamnya dari perpustakaan umum di Malang. Buku cetakan 2005 ini, dipinggir-pinggirnya sudah terlihat menguning. Pun sampul bukunya sangat tidak menarik untuk ukuran gen z, seperti yang bisa kamu lihat di samping. Tapi meskipun sampulnya terlihat jadul, isi bukunya sangat ‘daging’.

Apa sih isi ceritanya?

Seperti judulnya, kisah ini menceritakan kehidupan setelah kematian. Tokoh utamanya bernama Eddie, seorang staff maintenance di Ruby Pier — sebuah taman hiburan (theme park). Cerita dibuka dengan cerita mengenai satu jam terakhir Eddie di dunia. Tidak, Eddie tidak tahu bahwa dirinya akan mati hari itu. 

Seperti kalimat yang ditulis Mr. Albom, ‘Kalau saja ia tahu saat kematiannya sudah dekat, ia mungkin akan pergi ke tempat lain. Tapi karena tidak tahu, ia lakukan apa yang kita semua lakukan. Ia tetap menjalankan rutinitas sehari-harinya, seakan-akan seluruh hari di dunia ini masih akan dijalaninya.

Sungguh, setelah aku membaca paragraf itu, aku merasa seperti dihantam sesuatu. Membuatku akhirnya berhenti sejenak dan membaca ulang satu paragraf tersebut. Tapi memang ya, kita semua tidak tahu kapan kematian kita tiba, kita selalu merasa seolah-olah kita hidup selamanya, kita selalu menjalani kegiatan sehari-hari. Tidak ada satu pun manusia yang tahu, kapan kiranya Izrail datang.

Setelah Eddie tidak lagi bernapas di dunia, kisah pun dimulai. Orang pertama yang ditemuinya di alam baka adalah pria biru. Sosok yang bahkan hanya beberapa kali berpapasan dengan Eddie, namun ternyata menjadi pelajaran pertama bagi dirinya. Hingga kisah pun dilanjut sampai orang kelima. Yang mana mereka semua, dengan perannya masing-masing, membantu Eddie untuk berlapang dada menerima kematiannya.

Apa yang bisa didapat dari buku ini?

1. Mari hindari kebiasaan ‘aku sentris.

Dari kelima orang yang Eddie temui, kebanyakan diantaranya menceritakan bagaimana Eddie dari sudut pandang orang tersebut. Yang pada akhirnya, ternyata secara tidak sadar mempengaruhi jalan kehidupan Eddie pada masanya. Karena bisa saja, apa yang kamu anggap remeh malah nyatanya berdampak besar untuk orang lain. Jadi mari lebih peka dengan keadaan sekitar. Let’s touch some grass!

Hidupmu memang adalah duniamu, tapi kamu perlu mengingat bahwa dunia tidak berputar mengelilingi kamu. Dunia isinya bukan cuma kamu.

2. Ayo berdamai dengan diri sendiri!

Salah satu dari lima orang yang Eddie temui berkata “Kau mendapat kedamaian setelah kau berdamai dengan dirimu sendiri.”
Aku tidak akan memberi banyak kalimat disini. Karena sejujurnya aku cukup tertampar dengan kalimat ini hehe.

Aku sangat suka cara penulisan buku ini. Mr. Albom sangat pandai menyusun dan menggabung-gabungkan plot. Beliau sangat rapi menceritakan bagaimana kehidupan lampau Eddie, bagaimana situasi Eddie di alam baka saat ini, bahkan beliau juga bisa menggambarkan bagaimana kehidupan di dunia sepeninggal Eddie. Setelah membaca buku ini, aku merasa sedih tapi tidak menyesakkan. Ibaratnya aku sedang murung, lalu ada yang memelukku dengan hangat. Sangat nano-nano!

Kalau kamu suka buku-buku dengan tema seperti ini, aku punya beberapa rekomendasi nih! Caw lihat postinganku di instagram.

 

Ciao! Ketemu lagi ditulisanku selanjutnya yaa!!! >_<

More From Nia’s Story

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Meniti BianglalaHaloo!!! Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali lagi menulis di blog ini hehe. Kali ini aku mau membahas buku yang baru saja aku selesaikan. Judulnya "The Five People You Meet in Heaven", karya dari Mitch Albom. Mungkin kalau kalian suka membaca,...

read more
Review Film People We Meet on Vacation (2026)

Review Film People We Meet on Vacation (2026)

There is thin blur line between searching and escaping.Haloo!!! Aku datang membawa rekomendasi film baru untuk kalian semua hehe 😀 People We Meet on Vacation, diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Emily Henry. Tulisan tangan tersebut diangkat ke layar...

read more
Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Meniti BianglalaHaloo!!! Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali lagi menulis di blog ini hehe. Kali ini aku mau membahas buku yang baru saja aku selesaikan. Judulnya "The Five People You Meet in Heaven", karya dari Mitch Albom. Mungkin kalau kalian suka membaca,...

read more
Nia’s Spot
Copyright © 2026 ramadhaniawy

Don Quixote dari La Mancha

Don Quixote dari La Mancha

Don Quixote dari La Mancha

So call me, call me Don Quixote!

Hiii!!!

Bagi Carat (penggemar Seventeen), membaca kalimat di atas tentunya sangat tidak asing bukan? Yap! Seventeen punya satu lagu berjudul Don Quixote di album Face the Sun yang rilis pada 27 Mei, tiga tahun lalu. Tapi kali ini, aku bukan membahas soal lagu, melainkan buku.

Lagu milik Seventeen ini sebenarnya terinspirasi dari novel berjudul Don Quixote, karangan Miguel de Cervantes. Buku yang diterbitkan pada 1605 ini masih eksis hingga 4 abad setelahnya. Don Quixote ada 2 volume, dimana volume kedua dirilis 10 tahun setelahnya, tahun 1615. Fun fact, sebelum volume kedua diterbitkan ternyata ada loh ‘fanfic’ dari Don Quixote ini. Hahaha ternyata dari jaman dulu manusia emang suka banget bikin fanfic ya!

Oh! TMI nih, bukuku ini terbitan tahun 1978 guys! Dari 2 volume tadi, dijadiin satu sama Gramedia dalam satu buku dengan tebal 128 halaman ini. Banyak yang diringkas sepertinya, tapi isi ceritanya sebagian besar masih bisa tersampaikan dengan baik. Sayangnya, karena menggunakan tata bahasa lama, aku merasa sedikit kesulitan memahami beberapa paragraf di dalam novel ini. Jadi sepertinya wishlistku adalah membaca Don Quixote ini dalam versi bahasa Inggris, supaya mungkin bisa lebih jelas lagi ceritanya seperti apa.

Emang, bukunya bercerita soal apa?

Jadi, ada bangsawan desa bernama Quixada yang gemar sekali menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku-buku tentang ksatria. Kalau kalian kira dia masih muda, no, no, Quixada ini sudah berusia sekitar 50-an. Dia tinggal bersama keponakan perempuannya dan seorang asisten rumah tangga.

Saking banyaknya membaca buku tentang ksatria, berkali-kali buku buku itu dibacanya, Quixada merasa bahwa apa yang ada di buku itu benar-benar nyata. Hingga suatu hari, dia pun memutuskan untuk menjadi kstaria dan berkelana. Dia pikirkan semua kebutuhannya untuk menjadi ksatria. Mulai dari baju zirahnya disiapkan, kudanya yang diberi nama Rozinante, hingga dia memutuskan untuk mengubah namanya menjadi Don Quixote dari La Mancha. Yang paling unik adalah visi-misi dari pengembaraan ksatria ini akan ditujukan untuk Dulcinea del Toboso, kembang desa yang nama aslinya pun bukan Dulcinea. Bahkan Quixada sebenarnya tak pernah berbincang dengan gadis yang diimpikannya itu!

Setelah semua siap, Don Quixote pun berangkat berkelana dengan ditemani kudanya, Rozinante. Tapi di perjalanan pertama kali ini, sangatlah tidak mulus. Entah apa yang dipikirannya, dia tidak pergi tanpa membawa uang sama sekali, lalu mengajak orang berduel karena Don Quixote merasa bahwa orang yang ditemuinya mengina Dulcinea. Akhirnya dia pun pulang dengan babak belur. 

Setelah keadaannya membaik, Don Quixote pun memulai kembali pengembaraannya. Tapi kali ini, dia ditemani dengan pelayan barunya, Sancho Panza dan keledainya. Sebenarnya, Sancho ini merupakan orang yang membawa Don Quixote pulang saat babak belur di perjalanan pertamanya.

Dari sinilah kisah-kisah unik mereka dimulai. Don Quixote yang cukup gila, karena melihat banyak hal tidak sebagaimana mestinya. Misalnya saja, kincir angin raksasa yang ditemuinya di jalan, dimata Don Quixote terlihat sebagai raksasa besar dan kuat. Sedangkan Sancho, pelayannya yang sebenarnya waras sayang sedikit dungu, tetap mengikuti jalan pemikiran tuannya. Agak gila memang.

Terus, kenapa masih seterkenal itu bukunya meskipun sudah 4 abad berlalu?

Karena buku ini sangat menarik kalau ingin dikulik lebih dalam. Menurut orang-orang, Cervantes ingin menyampaikan kesatiran terkait kehidupan ksatria dan kehidupan sosial di Spanyol kala itu. Dimana isi ceritanya mengandung makna tersirat terkait idealisme vs realisme.

Duh, bentar! Agak berat yaaa hehe.

Idealisme di buku ini digambarkan dalam kehidupan Don Quixote. He build his fantasy world, immerses in that world, and it becomes his reality. Meskipun babak belur dalam perjalanannya, dia masih berpegang pada ideologinya. Dia tetap bertahan demi membela Dulcinea. 

Sedangkan realismenya digambarkan pada Sancho dan juga tokoh pendukung lain yang ada di buku. Sancho yang melihat dunia sebagaimana mestinya. Kincir angin ya kincir angin, bukan raksasa! Namun karena imajinasi Don Quixote sangat kuat, jadilah Sancho mengalah dengan mengikuti imajinasi tuannya itu selama perjalanan mereka.

Menurutku, buku ini sangat gila, benar-benar mengambil POV orang gila menurutku. Saat baca bab pertama saja aku langsung kehilangan minat untuk membacanya. Mungkin karena aku kehilangan empati dengan Don Quixote kali ya. Karena dia bebas berimajinasi tanpa memikirkan efek samping dari intrusive thought-nya. Menurut Don Quixote, yaudah gapapa babak belur waktu kalah, tapi toh kalau aku yang menang gimana?

Amazing banget pemikiran Don Quixote ini.

Lalu, apa yang bisa diambil dari buku ini?

Hmm … Kalau dari aku, mungkin yang bisa kita ambil adalah berimajinasilah sebebas mungkin. After all, you need some magic in your life. 

Gak usah takut dikatain gila sama orang lain saat kamu punya mimpi dan berusaha mewujudkan mimpimu. Toh, ‘gila’ menurut orang-orang bisa jadi karena apa yang kamu impikan, apa yang kamu lakukan buat mencapai mimpi itu tuh ‘berbeda’ sama apa yang ada di masyarakat pada umumnya. 

Saran dariku pribadi, jangan juga terlalu tenggelam dalam imajinasi, apalagi sampai membahayakan diri sendiri. Intinya selagi bermimpi, jangan lupa akal sehatnya dipakai ya.

Anyway, seperti yang disampaikan Seventeen dilagunya, khususnya di part-nya Jeon Wonwoo : 

난 나를 알아 넌 나를 잘 몰라 

I know myself well and you don’t know me

Dan juga part-nya Kim Mingyu : 

두려운 건 내 속에 나 

The thing I fear is me within myself

 

Soooo, live your life to the fullest fellas!!!!

More From Nia’s Story

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Meniti BianglalaHaloo!!! Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali lagi menulis di blog ini hehe. Kali ini aku mau membahas buku yang baru saja aku selesaikan. Judulnya "The Five People You Meet in Heaven", karya dari Mitch Albom. Mungkin kalau kalian suka membaca,...

read more
Review Film People We Meet on Vacation (2026)

Review Film People We Meet on Vacation (2026)

There is thin blur line between searching and escaping.Haloo!!! Aku datang membawa rekomendasi film baru untuk kalian semua hehe 😀 People We Meet on Vacation, diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Emily Henry. Tulisan tangan tersebut diangkat ke layar...

read more
Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Review Buku The Five People You Meet in Heaven

Meniti BianglalaHaloo!!! Setelah sekian lama, akhirnya aku kembali lagi menulis di blog ini hehe. Kali ini aku mau membahas buku yang baru saja aku selesaikan. Judulnya "The Five People You Meet in Heaven", karya dari Mitch Albom. Mungkin kalau kalian suka membaca,...

read more
Nia’s Spot
Copyright © 2026 ramadhaniawy